Hetalia: Axis Powers - Liechtenstein
Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 14 Juni 2013

TIPS' MERAWAT WAJAH AGAR TERHINDAR DARI JERAWAT





   "Wajah(muka) yang bebas dari jerawat,Tentu adalah impian dari kaum wanita.
   Tak hanya itu...Sebagian Pria'pun kini telah rajin merawat wajahnya agar tetap segar.
   Siapa yang tidak ingin memiliki wajah yang cantik/tampan dan bebas dari Flek atau jerawat-               yang kadang hanya membuat kita kurang percaya diri.
    Disini saya berikan Tips,agar dapat memberikan manfaat untuk Teman-teman yang telah-" membaca Blog saya.


Mulai melihat bintik-bintik jerawat kemerahan di wajah? Jangan panik! Sebelum memakai krim atau obat sebaiknya cermati makanan Anda. Makan makanan alami bisa membentuk kulit mulus, sehat bebas jerawat.

Munculnya jerawat seringkali tidak bisa dihindari, baik remaja usia 16 tahun hingga mereka yang berumur 40 tahun'an. Jerawat memang menjadi musuh utama kulit yang tak kunjung selesai. Obat jerawat atau perawatan kulit yang mahal memang tak menjamin bisa mengatasi jerawat secara efektif.


Sebuah penelitian yang diungkap Elliott Weiss, M.D., dokter kulit dari Laser & Skin Surgery Center of New York, menunjukkan kebiasaan makan yang buruk bisa memicu timbulnya jerawat. Akibatnua bisa sampai memperburuk kondisi jerawat.

"Jerawat merupakan masalah wajar pada kulit, biasanya jerawat bisa timbul karena sering makan makanan manis, berlemak dan bertepung. Sedangkan buat mereka yang gemar makan makanan sehat dan menghindari makanan olahan serta kemasan, berresiko kecil terhadap masalah kulit, khususnya jerawat', jelas Elliot.

Sebab, jerawat bisa mucul karena adanya kondisi hiperkeratosis folikel (proliferasi), yang mengarah ke penyumbatan folikel dan peradangan. Ini disebabkan oleh makanan yang tidak sehat. Makanan yang harus dihindari untuk mencegah munculnya jerawat adalah makanan manis, konsumsi produk susu berlebihan serta produk biji-bijian olahan.

Cara tersebut bukan hanya bisa mempercantik kulit, tetapi juga bisa menjaga tubuh tetap ramping. Makanan bernutrisi tinggi berikut ini bisa dikonsumsi teratur agar kulit tetap sehat.

Makanan berempah
Makanan pedas dan banyak mengandung cabai atau bubuk cabai dapat memperburuk jerawat. Jika menyukai rasa pedas pada makanan, mungkin bisa mengganti dengan rempah-rempah seperti lada, thyme, mint, dan rosemary.

Sayur dan buah berkadar air tinggi
Makan timun secara rutin bisa membantu mengobati jerawat. Kandungan air pada timun merupakan kunci utama untuk mengeluarkan racun yang menyumbat pori-pori. Timun juga bisa dijadikan sebagai pendingin yang efektif mengatasi peradangan jerawat, sehingga bisa dipakai sebagai masker. Wortel dan ubi juga bisa menjadi pilihan tepat untuk mengobati jerawat, karena mengandung vitamin A yang tinggi dan baik sebagai detoksifikasi keseluruhan kulit.

Tiram
Makanan ini terkenal karena meningkatkan hasrat seksual. Selain itu bisa menyembuhkan jerawat karena kandungan zincnya yang tinggi. Zinc dan vitamin A pada tiram mampu mengontrol pelepasan hormon pemicu jerawat. Cara terbaik untuk menyantap tiram adalah berupa tiram segar atau mentah.

Yogurt
Produk susu diketahui bisa memicu munculnya jerawat. Namun, kandungan bakteri baik pada yogurt bisa membantu mencegah munculnya bakteri jahat pemicu pembentukan jerawat. Akan lebih baik jika dimakan berupa yogurt tawar. Tambahkan irisan buah segar, seperti pisang atau apel dan irisan almond.

Dark Chocolate
Cokelat hitam tanpa pemanis atau dark chocolate memiliki antioksidan yang tinggi. Bagus untuk melindungi kulit dari kerusakan radikal bebas yang membahayakan kesehatan kulit dan memicu timbulnya jerawat.

Banyak minum air
Minumlah air mineral minimal 6 gelas per hari agar racun dalam tubuh hilang dan mencegah tubuh terkena dehidrasi. Air juga menjaga kelembapan dan elastisitas pada kulit. Bisa mencegah timbulnya jerawat. Jika bosan, tambahkan air jeruk atau lemon, daun mint atau mentimun. Hindari minuman beralkohol serta bersoda.


Jumat, 07 Juni 2013

Kisah Legenda, Sam Pek dan Eng Tay


                Inilah Kisah Cinta Yang Sangat Dramatis,Yang Layak Dibaca Dan Diketahui.



  Pada jaman dahulu kala di negeri Cina tepatnya di propinsi Zhejiang hiduplah keluarga Zhu. Mereka termasuk keluarga kaya dan terpandang di daerah tersebut. Keluarga Zhu mempunyai seorang putri yang sangat cantik bernama Cuk Eng Tay (Zhu Ying Tai). Sebagai anak perempuan, Ying Tai tidak boleh sering keluar rumah. Hal itu selalu membuatnya bosan. Dia ingin sekali pergi bersekolah seperti anak laki-laki. Berulang kali Ying Tai membujuk ayahnya untuk mengijinkannya pergi sekolah, namun ayahnya selalu menolak dengan tegas.

  Suatu hari dia mendapat sebuah ide. Ying Tai mengurung diri di kamar dan berpura-pura sakit. Tuan Zhu yang khawatir dengan kesehatan putri tunggalnya menyetujui usul Lin Ce, pengasuh putrinya, untuk memanggil seorang peramal.
"Tuan, saya sarankan anda untuk mengirim putri anda ke sekolah di luar kota, maka dia akan sembuh," kata si peramal.
"Apa? Tidak mungkin aku mengirim anak perempuanku bersekolah. Tak ada seorang gadis pun di sana!" kata Tuan Zhu gusar.


  Tiba-tiba peramal itu menyingkap tutup kepala dan jubahnya. Tuan Zhu terkejut karena peramal itu tidak lain adalah Ying Tai.
"Ayah, kalo aku berpakaian seperti laki-laki, bolehkah aku pergi ke sekolah? Tidak akan ada yang Tahu bahwa aku seorang perempuan," bujuk Ying Tai.
Akhirnya dengan berat hati Tuan zhu mengijinkan Ying Tai untuk pergi bersekolah.

  Pada hari yang ditentukan dengan ditemani Lin Ce yang setia, Ying Tai berangkat ke sekolah Sung Yee. Tentu saja dengan menyamar sebagai laki-laki. Di tengah perjalanan Ying Tai bertemu dengan seorang pemuda yang juga akan pergi ke Sung Yee. Mereka pun berkenalan dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Pemuda itu bernama Liang Sam Pek (Liang Shan Bo) dan berasal dari Guiji. Mereka pun menjadi akrab dan berjanji untuk saling menjaga. Shan Bo menganggap Ying Tai sebagai adik dan demikian sebaliknya Ying Tai menganggap Shan Bo sebagai kakak.

  Di sekolah Ying Tai belajar dengan giat. Dia sangat bersemangat, apalagi kini dia semakin akrab dengan Shan Bo sehingga hari-harinya tidak lagi membosankan. Karena Ying Tai gadis yang serdik, tidak seorang pun mencurigai penyamarannya. Maka Shan Bo pun memperlakukan Ying Tai sebagai adik laki-laki. Padahal Ying Tai ternyata mulai menaruh hati pada Shan Bo.

  Tidak terasa bertahun-tahun Ying Tai menghabiskan harinya di Sung Yee. Selama itu dia tidak pernah sekali pun pulang menengok ayahnya. Hanya Lin Ce yang pulang pergi membawa kabar dari Ying Tai dan ayahnya. Suatu hari Lin Ce membawa surat dari rumah yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras dan menyuruhnya pulang. Ying Tai bimbang, dia sangat ingin pulang menengok ayahnya namun dia juga takut sekembalinya ke rumah dia tidak akan bisa kembali ke sekolah. Itu artinya Ying Tai tidak bisa bertemu lagi dengan Shan Bo. Kepada Lin Ce dia berterus terang bahwa dia telah jatuh cinta kepada Shan Bo.

  Akhirnya Ying Tai dan Lin Ce memutuskan untuk meminta nasehat kepada guru Ying Tai. Ying Tai berterus terang bahwa dia adalah seorang gadis yang menyamar agar bisa sekolah. Untunglah beliau tidak marah. Ying Tai menitipkan sebuah bandulan kipas kepada guru untuk diberikan kepada Shan Bo.

  Dengan berat hati Shan Bo mengantar kepergian Ying Tai. Sebelum berpisah Ying Tai mencoba memberi isyarat kepada Shan Bo bahwa dia adalah seorang gadis, namun Shan Bo tidak mengerti arti isyarat Ying Tai. Akhirnya Ying Tai menyerah dan berkata bahwa dia akan menjodohkan Shan Bo dengan adiknya, maka Shan Bo harus datang menemuinya dan melamarnya.

  Setelah ditinggal Ying Tai, Shan Bo merasa kesepian. Akhirnya dia meminta ijin gurunya untuk menjenguk Ying Tai. Guru Sung Yee lalu memberikan bandulan kipas dari Ying Tai kepada Shan Bo dan memberitahukannya bahwa Ying Tai sebenarnya adalah seorang gadis. Shan Bo terkejut mendengarnya. Akhirnya dia mengerti bahwa sebenarnya Ying Tai ingin agar Shan Bo melamar Ying Tai dan bukan adiknya. Dengan hati berbunga-bunga Shan Bo pun berpamitan dan langsung memacu kudanya ke rumah Ying Tai.


  Sementara itu Tuan Zhu bermaksud menjodohkan Ying Tai dengan anak keluarga kaya dan berkuasa bernama Ma Wen Cai. Tentu saja Ying Tai menolaknya dan berterus terang bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih yang akan segera melamarnya. Tuan Zhu sangat marah mendengarnya. Dia tetap memaksa Ying Tai untuk menerima lamaran Ma Wen Cai dan mengancam akan membunuh Shan Bo jika Ying Tai berani menolaknya. Maka Ying Tai pun hanya bisa menangis sedih mendengar keputusan ayahnya.

  Beberapa hari kemudian Shan Bo sampai di rumah Ying Tai. Setelah memohon pada ayahnya, akhirnya Ying Tai bisa menemui Shan Bo. Mereka sangat bahagia bisa bertemu lagi. Namun Ying Tai juga bersedih karena ini adalah terakhir kalinya dia bisa menemui Shan Bo. Ketika Shan Bo mengutarakan niatnya untuk mempersunting Ying Tai, Ying Tai pun tak kuasa menahan air matanya.
"Kenapa kau kelihatan menangis, adik Ying Tai? Apakah kau tidak suka aku melamarmu?" tanya Shan Bo.
"Aku bahagia kakak Shan Bo. Tapi... ayahku telah menjodohkanku dengan pria lain dan aku tidak bisa menolaknya. Maafkan aku kakak!" tangis Ying Tai.

Shan Bo sangat marah mendengarnya. Dia pikir Ying Tai sudah melupakannya dan tidak ingin menjadi istrinya.
"Jadi kau lebih memilih menjadi istri orang kaya itu daripada aku yang miskin?" kata Shan Bo dengan marah.
"Bukan begitu kakak Shan Bo, ini adalah keinginan ayah dan aku tidak kuasa menolaknya. Mengertilah kakak! Meski aku harus menikah dengan orang lain, cintaku hanya untuk kakak seorang," isak Ying Tai.

Shan Bo tidak mau mendengar perkataan Ying Tai, dengan sedih dia memacu kudanya pulang ke rumahnya. Shan Bo kehilangan semangat hidupnya. Maka dia pun menghabiskan waktunya dengan minum banyak arak hingga lupa makan, lupa tidur. Akhirnya Shan Bo pun jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Shan Bo pun tidak mau berobat. Baginya hidup sudah tidak berarti lagi.

Ibu Shan Bo sangat sedih melihat keadaan putranya. Maka dengan berlinang air mata dia pergi ke rumah Ying Tai dan memohon kepada Tuan Zhu supaya mengijinkan Ying Tai menemui Shan Bo untuk terakhir kalinya. Namun Tuan Zhu menolaknya. Dengan hati sedih Ying Tai hanya bisa menitipkan sebuah bingkisan berisi puisi-puisi cinta dan segumpal rambutnya.

Shan Bo semakin sedih dan semakin tidak bergairah untuk sembuh. Suatu hari ketika sakitnya semakin parah, dia berpesan kepada ibunya bahwa jika ia meninggal dia ingin dikuburkan di jalan yang akan dilalui oleh iring-iringan pengantin Ying Tai. Beberapa saat kemudian Shan Bo pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Ying Tai pun berduka mendengar kematian kekasihnya. Dia menangis sepanjang hari dan meratapi nasib yang tidak menyatukannya dengan kekasih yang dicintainya.

Tuan Zhu sangat khawatir melihat keadaaan putrinya, maka dia meminta supaya tanggal pernikahan putrinya dipercepat.

Ying Tai lalu memohon kepada ayahnya supaya diijinkan untuk turun sebentar dari tandu pengantin dan mengunjungi makam Shan Bo untuk memberi penghormatan terakhir. Meski tidak setuju tapi akhirnya Tuan Zhu dan keluarga Ma memberi ijin.

Maka ketika iringan pengantin Ying Tai tiba di makam Shan Bo. Ying Tai turun dari tandu dan berlutut di makam kekasihnya. Dengan menangis sedih dia berkata: "Kakak Shan Bo percayalah bahwa cintaku hanya untukmu. Aku tidak ingin menikah dengan orang lain. Jika kakak mendengarku, bawalah aku pergi bersama kakak!"


  Mendadak angin bertiup sangat kencang dan hujan pun turun dengan derasnya. Di tengah suara petir yang menggelegar tiba-tiba makam Shan Bo terbelah dua dan muncul lah lubang menganga di depan Ying Tai. Tanpa pikir panjang Ying Tai pun terjun ke dalam lubang tersebut tanpa sempat dicegah oleh para pengiringnya. Kemudian makam tersebut kembali menutup dan Ying Tai pun menghilang.


  Suasana kembali cerah seperti tidak pernah ada kejadian apapun. Tinggallah para pengiring yang masih terkejut dengan kejadian tersebut. Hanya Lin Ce yang menangis meratapi kepergian majikannya. Tiba-tiba dari balik makam, muncullah sepasang kupu-kupu yang cantik. Mereka berputar-putar sebentar di kepala Lin Ce sebelum akhirnya terbang jauh dengan gembira. Lin Ce yakin bahwa kupu-kupu itu adalah penjelmaan roh majikannya yang telah bersatu dengan kekasihnya. 






Dari cerita ini kita mendapatkan banyak edukasi.
Kita sebagai manusia tidak bisa memaksa kehendak orang lain untuk mengikuti keinginan kita.
Ini layak dibaca dan ditonton.
Kesetiaan sepasang kekasih Liang Shan Bo dan Zhu Ying Tai membuat air mata saya jatuh dan luka dihati.



Fenomena Aneh "Manusia Melahirkan Dalam Kuburan"




*Coffin Birth, Fenomena Wanita Melahirkan dalam Kubur, maksud dari melahirkan dalam kubur adalah keadaan dimana sang ibu sudah meninggal. Bisakah seorang perempuan yang meninggal dalam kondisi hamil melahirkan setelah dikuburkan?.ternyata itu tak cuma cerita fiksi dalam film Suzanna 'Beranak Dalam Kubur', fenomena itu memang benar-benar ada. 


Dalam istilah medis fenomena wanita meninggal yang melahirkan anaknya di dalam peti mati atau makam disebut coffin birth.  Coffin birth adalah suatu istilah yang digunakan oleh seorang pemeriksa mayat (coroner) untuk proses kelahiran spontan yang terjadi pada seorang perempuan hamil yang sudah meninggal. Biasanya terjadi beberapa minggu atau bulan setelah si perempuan meninggal. 
Jadi jangan heran jika ada kejadian ditemukan bayi di dalam kuburan perempuan yang terpisah dari ibunya. Bayi ini pun sudah dalam kondisi meninggal. Biasanya perempuan hamil yang meninggal, bayinya tidak dikeluarkan jika dinyatakan bayinya pun tidak lagi bernyawa. Bagaimana proses perempuan mati yang melahirkan dalam kubur?Fenomena ini terjadi ketika gas yang secara alami terbentuk di dalam perut dan daerah panggul pada tubuh seseorang yang sudah membusuk. Gas ini akan memberikan tekanan yang cukup kuat untuk mendorong bayi yang dikandung agar bisa keluar melalui jalan lahir dari tubuh ibunya yang sudah meninggal.  "Kondisi ini bisa terjadi jika tubuh mayat tidak diawetkan dengan cara dibalsem. Tapi jika tubuh dibalsem dengan benar maka fenomena tersebut tidak akan mungkin terjadi," ujar Boyd Stephens, kepala pemeriksa medis di San Fransisco, seperti dikutip dari USAToday.
 Fenomena coffin birth ini pernah terjadi pada April 2003. Kepala pemeriksa medis di San Francisco, California, bersama dengan tim penyelidik menemukan fenomena ini.


Tim penyelidik menyatakan bahwa coffin birth menjadi alasan yang paling mungkin dari ditemukannya tubuh seorang perempuan dewasa yang hamil dan membusuk dengan seorang bayi yang terdampar secara terpisah. Fenomena ini terjadi di timur laut San Francisco. Istilah coffin birth pertama kali didefinisikan dalam bahasa Jerman yaitu Sarggeburt. Fenomena kelahiran ini sebenarnya telah terjadi sepanjang sejarah manusia sebelum adanya teknik pengawetan dengan cara pembalseman pada mayat. Namun sejak teknik pembalseman atau pengawetan lainnya semakin moderen, maka fenomena ini sudah sangat langka terjadi. 

Karenanya semenjak awal abad ke-21, istilah kelahiran ini sudah sangat jarang muncul di masyarakat. Di sisi lain, kelahiran pada ibu yang sudah meninggal masih mungkin terjadi ketika kematian akibat kecelakaan atau pembunuhan yang tidak mungkin prosedur pembalseman dilakukan. 



Para ahli forensik menyatakan bahwa coffin birth atau terkadang disebut dengan kelahiran postmortem bisa memakan waktu beberapa minggu atau bulan baru terjadi. Hal ini tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti suhu di luar tubuh atau dari dalam tubuh perempuan itu sendiri. Karena diperlukan gas yang cukup dari dalam tubuh akibat proses pembusukan. 



Selasa, 28 Mei 2013

Legenda Dewi Pelindung Laut Ma Zu



                           Sejarah Dewi Ma Zu ( Ma Co)




Ma Zu (Mandarin) atau Ma Cho (Hock Kian) adalah salah satu dewi dalam kepercayaan orang Tiongkok (termasuk Taiwan). Dipuja karena dikenal sebagai sosok penolong, pelindung (terutama bagi pelaut dan nelayan), dan sangat berbudi luhur. Banyak versi mengenai kisah dewi bernama asli Lin Mo Niang ini, namun semua mengarah pada satu kesamaan. Bahwa ia adalah manusia yang "terpilih" menjadi orang suci.

Legenda Ma Zu (Bunda Pelindung) ini berasal dari masa awal Dinasti Song (960-1279 M) di Tiongkok kuno pada seribu empat puluh tujuh tahun lalu. Adalah keluarga Lin (disebut juga Lim), keturunan mantan Gubernur Provinsi Fu Zian (Tiongkok) bernama Lin Fu. Anaknya bernama Lin Wei Ke menempati sebuah rumah di Provinsi Fu Zian, dekat kota Pu Tian, persisnya di sebuah pulau kecil bernama Mei Zhou (sering juga disebut Pulau Matsu -wilayah RRC).

Lin Wei -seperti juga ayahnya- adalah mantan pejabat pemerintah Tiongkok. Setelah pensiun ia kembali ke kampung halamannya. Menghabiskan masa tuanya dengan bertani dan mempelajari banyak kitab agama dan buku pengetahuan. Ia hidup bahagia, damai dan tenang.

Lin dikenal sebagai orang yang sangat saleh, baik budi, suka menolong dan berderma, sehingga sangat dihormati penduduk Mei Zhou. Dari istri tercintanya Wang Shi, Lin memiliki 6 anak, 5 perempuan dan 1 lelaki. Keenam anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan cerdas. Namun anak lelakinya bernama Hong bertubuh sangat lemah dan sakit-sakitan.

Wang Shi, sangat prihatin dan khawatir pada nasib anak lelakinya. Ia dan suaminya Lin, selalu memohon pada Yang Maha Kuasa agar diberi anak lelaki lagi. Namun yang sehat dan kuat sebagai penerus generasi marga Lin.

Kelahiran Lin Mo Niang
Suatu hari, Lin dan Wang melakukan sembahyang khusus di klenteng. Mereka memohon kepada Dewi Kuan Im untuk mengabulkan harapan mereka untuk mendapatkan seorang anak lelaki lagi. Malam harinya setelah pulang dari klenteng, Wang Shi pun bermimpi. Ia bermimpi didatangi Dewi Kuan Im yang mengatakan bahwa semua amal dan kebajikan pasangan Lin dan Wang pantas mendapat balasan. Sang Dewi memberi Wang sebuah pil bundar sebesar kelereng dan menyuruh menelannya. Wang Shi pun menelan pil tersebut.

Setelah menelan pil itu Wang Shi pun mengandung. Ia hamil selama 12 bulan. Tepat pada malam tanggal 23 bulan 3 tahun Imlek (960 M), langit di wilayah Barat Laut Mei Zhou memendarkan cahaya merah terang. Menerangi rumah Lin dan Wang. Dibarengi sinar warna-warni yang memukau, Wang Shi pun melahirkan seorang bayi perempuan.

Walau heran mengapa diberi anak perempuan, Lin dan Wang tetap bersyukur juga. Sebulan sudah kelahirannya, anak tersebut tidak pernah sekali pun menangis. Karena itulah Lin memberi nama padanya Mo Niang (Mo artinya diam; Niang artinya perempuan), "Perempuan Pendiam".

Masa Kecil
Sejak kecil Lin Mo Niang sangat berbeda dari anak seusianya. Ia tampak lebih cerdas, bijak dan terampil. Sejak umur 8 tahun, ia sudah tertarik pada pengetahuan dan buku. Kelebihannya, sekali baca, Mo Niang akan tetap mengingat apa yang telah dibacanya. Jika ada yang ingin diketahuinya, ia selalu rajin bertanya pada orang dewasa, sampai sedetail-detailnya.

Umur 10 tahun, Mo Niang sudah rajin sembahyang dan mempelajari isi kitab-kitab suci Buddha. Sampai akhirnya diusia 13 tahun ia sudah menamatkan semua pelajaran dan menguasai banyak pengetahuan dan keterampilan, termasuk dalam bidang agama dan kepercayaan. Ia berkembang menjadi remaja yang sangat cerdas, kritis dan suka menolong. Ia pun menjadi sangat dihormati penduduk Mei Zhou dan sekitarnya.

Satu kesenangan Mo Niang, yaitu ia sangat menyukai air. Kehidupan di tepi laut menempa dirinya menjadi seorang perempuan yang tak pernah gentar menghadapi dahsyatnya gelombang dan angin badai yang menghantui para pelaut. Di seluruh pulau, ia dikenal sebagai jagoan renang bahkan di gelombang laut yang besar sekali pun.

Saat remaja ini, Mo Niang pernah bertemu seorang pertapa tua. Si pertapa merasa pengetahuan umumnya ternyata masih kalah dengan Mo Niang. Dari "orang pintar" ini lah kemudian Mo Niang mendapat pelajaran mengenai taktik dan strategi militer, pengenalan dan penggunaan alat-alat perang, sampai beberapa ilmu "rahasia" luhur
KEBAJIKAN                               

Ketika menginjak usia 16 tahun, Mo Niang mengalami peristiwa aneh. Suatu hari ia (seperti juga gadis remaja lainnya) sedang mematut diri dengan baju baru di depan cermin bersama teman remaja sebaya di sebuah taman di dekat sebuah sumur. Tiba-tiba , dari dalam sumur muncul sosok lelaki tua misterius. Penampakan itu sangat mengejutkan. Teman-temannya langsung lari ketakutan karena mengira orang tua aneh itu adalah siluman. Namun Mo Niang segera sujud menyembah, karena ia tahu sosok itu adalah jelmaan Dewa. Sang Dewa ternyata membawa sebuah jimat dari kuningan dan memberikannya pada Lin Mo Niang.

Sejak mendapat jimat, Mo Niang pun langsung memanfaatkannya untuk menolong sesama. Ia membantu menyembuhkan orang sakit, memberi penghiburan pada yang bersedih, menjauhkan malapetaka dan banyak perbuatan baik lainnya. Kemahirannya dalam pengobatan ini menyebabkan orang-orang di desa menyebutnya sebagai ling nu (gadis mukjizat), long nu (gadis naga) dan shen gu (bibi yang sakti).

Pernah suatu kali saat usianya baru 17 tahun, Mo Niang melihat ada kapal yang berlayar di dekat Pulau Mei Zhou yang sedang dipermainkan badai besar. Kapal itu tenggelam dengan cepatnya. Namun Mo Niang segera melompat ke laut dan dengan cekatan ia menyelamatkan seluruh pelaut yang terjebak badai tersebut. Semua awak berhasil diselamatkannya. Dari sini banyak orang yang mendengar tentang kehebatan, dan budi baik Mo Niang. Ia pun semakin terkenal dan dihormati.

Ada versi legenda yang mengatakan, pada usia 23 tahun, Mo Niang berhasil menaklukkan 2 orang sakti yang menguasai pegunungan Tao Hua Shan. Keduanya adalah Chien Li Yen yang punya penglihatan sangat tajam dan Hsun Feng Erh yang pendengarannya sangat peka. Setelah dikalahkan akhirnya mereka menjadi pengawalnya.

"Mimpi Buruk"


Lin Mo Niang memang sangat cantik dan baik hati, namun ia tidak pernah menikah. Setidaknya ia memang membaktikan dirinya untuk menolong sesama dan berbuat kebaikan sesuai ajaran kebajikan.

Menginjak usia 28 tahun, di musim panas (sekitar tahun 987 M), sebuah "tragedi" terjadi. Saat itu Lin Mo Niang sedang menenun pakaian. Namun karena lelah, ia pun tertidur pulas.

Sementara itu ayah dan saudaranya sedang berlayar pulang ke Mei Zhou dari perjalanan jauh. Kapal yang mereka tumpangi diserang badai dan akhirnya tenggelam.

Bersamaan dengan itu, Mo Niang bermimpi, ia merasa rohnya melayang-layang di atas permukaan laut. Ia terkejut saat menyaksikan kapal sang ayah tenggelam. Ayah dan saudaranya pun terseret masuk ke dalam amukan badai. Mo Niang segera berenang dan menyelam ke laut untuk menolong mereka. Ia menggigit baju sang ayah sementara dengan tangan yang lain ia menyeret abangnya. Bersusah payah ia mencoba menyelamatkan kedua orang yang dikasihinya itu.

Namun saat penyelamatan masih berlangsung, tiba-tiba ibunya memanggil. Ia pun terkejut dan berteriak kaget, sehingga gigitannya terlepas sementara tangannya tetap menyeret tubuh abangnya. Tetapi saat terbangun Lin Mo Niang mendapati dirinya masih di ruang tenun. Ia pun menceritakan mimpinya itu pada sang ibu. Wang Shi, ibunya, berkata bahwa itu hanya mimpi.

Tetapi tak lama kemudian, sebuah kabar buruk pun datang. Seorang pelaut memberitahu bahwa kapal yang ditumpangi Lin dan putranya tenggelam. Jasad Lin tidak ditemukan, tetapi Hong abangnya berhasil diselamatkan.

Mendengar kabar itu, betapa pilu hati Mo Niang. Dalam keadaan sedih ia pun segera berlayar ke laut. Selama tiga hari tiga malam ia berusaha menemukan jasad ayahnya. Pencariannya tak sia-sia. Ia pun kemudian ke Pantai Mei Zhou bersama jasad sang ayah.

                                          

Menjadi Dewi    
Sejak kematian sang ayah, Mo Niang setiap hari bersedih dan selalu menangis. Hingga pada tanggal 8 bulan 9 tahun Imlek (987 M), ia pun mengakhiri kepiluannya. Saat itu ia berkata kepada seluruh keluarga dan ibunya bahwa ia akan menyendiri dan menjauhi keramaian duniawi. Ia akan pergi dalam perjalanan yang sangat jauh.

Keesokan harinya, tanggal 9 bulan 9 Imlek (987 M), Lin Mo Niang melakukan persiapan. Ia sembahyang dengan sangat khusyuk sambil merapal kitab-kitab suci. Suasana sangat hening dan memilukan. Seluruh keluarga pun kini yakin bahwa Mo Niang memang bertekad akan pergi jauh.

Ibunya meminta Mo Niang untuk tidak pergi seorang diri dan menawarkan seorang pendamping dalam perjalanannya. Namun Mo Niang menolaknya dengan halus dan menyakinkan seluruh keluarga bahwa kini sudah tiba waktunya untuk pergi seorang diri.

Usai memanjatkan doa, tiba-tiba langit di sekitar kediaman keluarga Lin di Pulau Mei Zhou dikelilingi selubung awan putih. Pendar sinar warna-warni yang indah terlihat di atas langit. Banyak orang yang menyaksikan sinar terang dan sosok Dewi Kuan Im berada di atas sebuah awan yang paling terang.

Lalu tiba-tiba Lin Mo Niang menatap ke atas dan melompat ke awan. Awan tiba-tiba menutup dan terang cahaya semakin memudar. Akhirnya awan membumbung terbang jauh seiring sinar yang menghilang lenyap… langit pun kembali normal. Lin Mo Niang pun lenyap bersama awan…

Klenteng Dewi Ma Zu
Lin Mo Niang tetap dikenang sampai seribuan tahun. Perempuan yang sudah dianggap sebagai Dewi Ma Zu itu, hingga kini tetap dipuja sebagai "Bunda Pelindung" dan "Bunda Penolong" bagi sebagian besar orang Tiongkok.

Setelah "kepergiannya" yang gaib, di Pulau Mei Zhou (Matsu), sebuah klenteng dibangun untuk pemujaannya. Klenteng itu dikenal sebagai Tian Hou Gong (Istana sang Dewi).

Kini, diperkirakan sekitar 5.000-an unit klenteng Ma Zu di dua puluh negara di dunia sudah didirikan. Seluruh klenteng itu dibangun untuk memuja dan sembahyang kepada Dewi Ma Zu oleh sekitar 200 juta jiwa orang yang mempercayainya.

Setiap tahunnya, lebih dari sejuta orang memenuhi klenteng itu untuk sembahyang dan meminta berkat pada Dewi Ma Zu. Karena orang Tiongkok percaya bahwa Dewi Ma Zu bisa melindungi dan mengabulkan segala permohonan mereka. Bahkan kaum pelaut di wilayah pantai dan perairan Timur RRC (termasuk Taiwan) memuja Dewi Ma Zu sebagai Dewi Pelindung Laut. Dewi yang melindungi mereka saat melaut.

Dua tahun sekali, persisnya pada tanggal 23 bulan 3 dalam penanggalan lunar (kalender China/imlek) dan tanggal 9 bulan 9, pemuja Dewi Ma Zu, berkumpul dan melakukan sembahyang di klenteng Dewi Ma Zu untuk menghormatinya. Tanggal 23 bulan 3 adalah peringatan ulang tahunnya dan tanggal 9 bulan 9 adalah peringatan wafatnya.

Hingga kini, Klenteng Ma Zu di Pulau Mei Zhou sebagai klenteng pertama bagi Lin Mo Niang, tetap dipenuhi orang.

Bahkan menjadi salah satu daerah tujuan wisata di Selat Taiwan, Laut China Timur. Klenteng itu dibangun pada masa Dinasti Song sekitar tahun 987 M di puncak sebuah bukit. Ditandai dengan patung Dewi Ma Zu setinggi 14,35 meter. Inilah yang menjadi lambang kebanggaan dan ciri khas budaya penduduk Pulau Mei Zhou.

Sejak tahun 1998, pemerintah Pulau Mei Zhou juga telah membangun sebuah Istana Dewi Ma Zu di dekat klenteng tuanya.

Bangunan istana ini didirikan sepanjang 323 meter dengan lebar bangunan 99 meter. Arsitekturnya ditata seindah mungkin mengikuti garis kontur perbukitan di pulau tersebut. Istana Dewi Ma Zu ini sangat megah.

Mengimbangi kemegahan Potala Palace tempat Dalai Lama Tibet di Lhasa. Bangunan istana untuk menghormati Dewi Ma Zu ini selesai dikerjakan pada 2002. Kini menjadi satu obyek wisata yang cukup tersohor.

Sementara di Indonesia, khususnya di Medan, terdapat juga klenteng Dewi Ma Zu (Dewi Macho) di kawasan Jalan Pandu Medan. Selain itu juga tersebar di tepi pantai timur Sumatera dan daerah lainnya.

Kepercayaan kepada Dewi Ma Zu
Dewi Ma Zu sangat diagungkan di Taiwan. Hampir seluruh warga Taiwan selalu memuja dan menghormati Dewi Ma Zu. Bukan hanya rakyat biasa, para pejabat tinggi pemerintahan juga senantiasa memohon restu padanya.

Bahkan Presiden Taiwan sendiri, Chen Shui-bian, juga kerap mengunjungi klenteng Dewi Ma Zu untuk meminta restu dan perlindungan dari sang dewi, agar ia senantiasa dicintai rakyatnya. Pada saat menjelang Pemilu di Taiwan, banyak kandidat dan tokoh politik yang juga melakukan sembahyang di Klenteng Dewi Ma Zu.

Sementara kisah-kisah rakyat dan para pelaut menyebutkan bahwa penampakan Dewi Ma Zu sering terlihat. Umumnya saat ombak laut sedang mengganas atau badai mendera. Dewi Ma Zu disebutkan hadir untuk menolong para pelaut yang mempercayainya.

Konon kehadiran Dewi Ma Zu ini ditandai dengan sinar merah terang. Mungkin karena sejumlah saksi mata yang pernah terselamatkan dari amuk lautan mengatakan bahwa Dewi Ma Zu senantiasa menggunakan pakaian merah sambil memegang lampion terang benderang yang juga berwarna merah. Dengan panduan lampion tersebut, Dewi Ma Zu membimbing pelaut dan nelayan meniti gelombang menuju tempat yang aman.

Karena itulah Dewi Ma Zu begitu populer dikalangan masyarakat nelayan dan desa-desa tepi laut. Bahkan sejak dulu para pelaut Tiongkok selalu sembahyang kepada Dewi Ma Zu agar diberi keselamatan dalam pelayaran. Mereka juga memasang patung Dewi Ma Zu di kapalnya.

Walau dikenal sebagai Dewi Pelindung Laut, Dewi Ma Zu tetap saja dipuja bukan oleh kalangan nelayan dan pelaut semata. Ia juga dipercaya dapat memberikan berkat untuk menyembuhkan penyakit, menepis bencana dan malapetaka, memberi kesuburan, sampai memberi perlindungan dan keselamatan.
  
Thank's you...

Titano Boa Ular Terbesar



 Para ilmuwan di Smithsonian mencoba untuk ‘menciptakan’ kembali Titanoboa dalam sebuah video untuk mengeksplorasi mengapa ular ini mampu tumbuh besar hingga 48 kaki dan memiliki berat 2.500 ponds.

“Ia nampak begitu fantastis. Dan mungkin orang akan menganggapnya salah binatang fantasi. Ia mungkin hanya mitis yang ditemukan di film Spielberg,” papar David Royale, kepala channel progam Smithsonian.

Channel Smithsonian mencoba untuk menciptakan sebuah film kronik tentang penemuan seekor ular sepanjang 48 kaki dan beberat 2.500 ponds. Ular ini hidup 60 juta yang lalu dan seorang predator.

“Titanoboa adalah predator terbesar di darat setelah kepunahan dinasaurus selama 10 juta tahun. Ini mungkin predator utama di bumi setelah kepunahan dinosaurus,” tegas Jonathan Blonch, ahli paleontologi dan kurator Museum Sejarah Alam di Florida, Amerika               


Sebuah ular dengan panjang 48 kaki dan berat lebih dari 2.500 ponds telah ‘dihidupkan’ kembali setelah 60 juta tahun mati oleh para ilmuwan di channel Smithsonian.


Ular tersebut bernama Titanoboa. Ia merupakan ular terbesar – dan lebih besar dari Anaconda – yang merupakan jenis ular terbesar dalam sejarah.

Smithsonian, sebuah acara TV mencoba mengulas debat para ilmuwan yang membahas bagaimana ular ini sanggup tumbuh begitu besar pada masanya.


 Titanoboa memiliki ukuran berkali-kali lipat lebih besar daripada Anaconda (film tahun 1997).

Mahkluk hidup zaman palaeocene, 10 juta tahun yang lalu, muncul diikuti dengan musnahnya dinosaurus oleh asteroid serta komet. Mereka hadir untuk mengisi celah dalam proses evolusi.




 Titanoboa, menghuni di Kolombia pada 60 juta tahun yang lalu.

Jonathan Blonch mengatakan, jika Titanoboa menggantikan peran dinosaurus tatkala musnah. Dan ia benar-benar mempu menggantikannya sebagai predator.

“Ia membentang panjang melebihi bus kota dan beratnya lebih dari sebuah mobil. Ular terbesar di dunia yang pernah ada dan diketahui,” pungkasnya. 


Ugh... Seraaam....

Jumat, 03 Mei 2013

ANEH TAPI NYATA, HUJAN LABA-LABA TERJADI DI BRAZIL


                           
                            

***Santo Antonio da Platina - Wisatawan yang sedang berada di Kota Santo Antonio da Platina, Brazil, pasti kaget dengan fenomena alam di sana. Baru-baru ini, ada hujan laba-laba yang turun dari langit!

Aneh tapi nyata, hujan laba-laba ini benar-benar terjadi di Brazil. Dilansir oleh News Australia, Senin (11/2/2013), kejadian ini terekam oleh pemuda berumur 20 tahun bernama Erick Reis.

Reis pun menggungah rekaman videonya ke Youtube. "Masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kami meneliti dan akan memposting jawabannya di sini," katanya dalam situs Youtube.

Reis pun sungguh bingung dan tidak percaya dengan kejadian tersebut. Dalam video, terlihat jelas langit dipenuhi oleh puluhan, mungkin ratusan laba-laba yang berada di langit. Reis mengaku melihatnya saat sore hari.
                                    
Dalam video berjudul 'it's raining spiders in brazil', laba-laba tersebut terlihat seperti menggantung. Entah menggantungkan diri kepada kabel listrik di dekatnya atau benda lain. Mereka juga terlihat seperti sedang membuat suatu jaring raksasa. Tak percaya? Silakan buka sendiri videonya yang berdurasi 4 menit 29 detik    tersebut.                            .

Seperti yang dilaporkan Gawker, Laba-laba ini dikenal sebagai 'social spiders', nama latinnya Anelosimus eximius. Jenis laba-laba ini hidup dalam koloni yang besar dan mudah ditemukan di daerah tropis. Laba-laba ini pun terdapat di seluruh wilayah di Amerika Selatan.

Hingga kini, belum ada penjelasan khusus mengenai hujan laba-laba ini.

Sumber. Tahu-Tempe
 

Blogger news

My Signature

About